Understanding The Flea, Gen Y

One extreme consequence from technology development is on the way of Generation Y thinks and processes information which is different from the previous generations.

PPM Manajemen3
Text and image block




Oleh: Maharsi Anindyajati M.Psi. – Psikolog, Trainer, Executive Development Services | PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat dalam
buku Bunga Rampai Psikologi dalam Manajemen SDM dan Pengembangan Organisasi terbitan IO Club (Industrial Organizational Club), PT Swasthi Adi Cita, 2016.

 

Generasi Y atau juga dapat disebut sebagai generasi milenial, merupakan generasi yang lahir setelah generasi X dan menjelang milenium ketiga.  Dari berbagai literatur terdapat perbedaan mengenai tahun lahir generasi Y ini, akan tetapi kebanyakan literatur menetapkan bahwa generasi ini lahir antara tahun 1980 – 2000.

Kelompok Gen Y di setiap negara pada dasarnya memiliki karakteristik yang berbeda, tergantung kondisi sosial ekonomi, politik, budaya, dan latar belakang sejarah di negara tempat ia dibesarkan. Akan tetapi karena globalisasi, evolusi teknologi, perkembangan media sosial, westernisasi,  dan cepatnya perubahan terjadi, maka kelompok Gen Y secara universal lebih memiliki kemiripan antara satu dengan lainnya, dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya (Stein, 2013; Zemke, Raines, & Filipczak, 2013).

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Erickson & Bevins (2011) di delapan negara, yaitu Amerika, Brazil, China, India, Inggris, Jerman, Rusia, dan Saudi Arabia, terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh Gen Y di kedelapan negara tersebut. Satu karakteristik yang selalu muncul pada tiap Gen Y di semua negara yang diteliti adalah digital native. Istilah digital native diperkenalkan pada tahun 2001 oleh Marc Prensky, seorang ahli pendidikan Amerika. Digital native merupakan gambaran seseorang yang sejak kelahirannya telah terpapar gencarnya perkembangan teknologi, seperti perkembangan komputer, internet, video games, telpon seluler, dan sebagainya yang terkait dengan teknologi. Tidak dipungkiri karena GenY ini adalah generasi pertama yang lahir dan tumbuh di era digital. Zemke, Raines & Filipczak (2013) menyatakan bahwa dua pertiga dari Gen Y telah menggunakan komputer sebelum mereka berusia 5 (lima) tahun.

Menurut Prensky (2001), salah satu konsekuensi ekstrem dari perkembangan teknologi adalah pada cara Gen Y berpikir dan memproses informasi, yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Para Gen Y terbiasa untuk menerima informasi secara cepat dan melakukan beberapa kegiatan secara bersamaan. Jika generasi sebelumnya harus mencari literatur di perpustakaan, maka Gen Y cukup berselancar di dunia maya untuk mendapatkan berbagai sumber referensi yang mereka inginkan. Hanya dengan mengetik kata kunci, maka sejumlah data yang dibutuhkan tersaji dengan cepat. Bandingkan dengan upaya yang harus dikerahkan oleh para generasi sebelumnya untuk mencari sebuah data. Tidak mengherankan apabila mereka menjadi kurang sabar untuk mendapatkan yang mereka inginkan dan menginginkan hasil yang bersifat segera dari upaya yang telah mereka lakukan.

Para Generasi Y berinteraksi dan terkoneksi 24 jam 7 hari dengan temannya, orang tuanya, informasi, dan dunia hiburan, tetapi hampir seluruhnya melalui layar. Mereka dapat terlihat duduk bersebelahan atau bersamaan, namun masing-masing terpaku pada layar telepon selulernya. 70% dari mereka memeriksa ponselnya setiap jam dan banyak yang mengalami gejala “pocket-vibration syndrome” (Stein, 2013). Menurut Larry Rosen, profesor di bidang psikologi dari California State University, “pocket-vibration syndrome” adalah sebuah kondisi dimana seseorang merasakan adanya getaran dari ponsel, yang mungkin disimpan di saku atau tas, dan mengecek ponsel untuk memastikan apakah benar terdapat pesan masuk atau hanya getaran semu saja.  Perilaku ini dilakukan untuk mengurangi rasa cemas. Individu akan merasa cemas apabila ia tidak sering mengecek ponsel mereka  (Rosen, 2013).

Kehadiran media sosial menggeser kendala untuk terkoneksi dengan individu dari berbagai belahan dunia. Gen Y tumbuh pada masa dimana sangat mudah mendapatkan sahabat pena dari suku, ras, dan kewarganegaraan manapun. Media sosial membuat mereka unggul dalam menjalin jejaring dan memandang dunia secara global.  Kondisi ini membentuk mereka untuk lebih toleran terhadap perbedaan dibanding generasi sebelumnya. Tetapi, media sosial pun dapat menyebabkan mereka ingin senantiasa mendapatkan perhatian dan berupaya melakukan berbagai hal agar mencapai ketenaran. Mereka mengalami “pocket-vibration syndrome”, berulang kali merasakan ponsel mereka bergetar dan mengecek ponsel mereka karena berasumsi ada yang memberikan komentar atau menyukai status terkini mereka di media sosial. Media sosial juga menyebabkan penggunanya menampilkan kehidupan mereka secara berlebihan. Mereka memberikan sejumlah besar informasi pribadi dan ingin menciptakan karakter tertentu di dunia maya yang identik dengan kesuksesan, meski di dunia nyata keadaanya mungkin jauh berbeda. Pengguna media sosial sibuk mengunggah mengenai liburan, aktivitas di waktu luang, pekerjaan, dan kegiatan mereka lainnya.  Hal ini menurut Keith Campbell, profesor di bidang Psikologi dari University of Georgia, menyebabkan meningkatnya narsisme di kalangan generasi Y (Stein, 2013; Zemke, Raines, & Filipczak, 2013).

Selain faktor pesatnya perkembangan teknologi, pola asuh orangtua turut menyumbang pembentukan karakter para Generasi Y. Zemke, Raines & Filipczak (2013) mengungkapkan bahwa Gen Y rata-rata dibesarkan dengan pola asuh yang lebih ramah dan lembut dibanding generasi sebelumnya. Memukul anak dianggap sebagai bentuk penyiksaan terhadap anak, orangtua dianjurkan untuk bernegosiasi dengan anak-anak dalam tiap pengambilan tindakan. Hubungan antara orangtua dan anak menjadi lebih egaliter dan kurang bersifat hirarkis. Banyak yang berperan sebagai sahabat bagi anaknya, yaitu memberi nasihat, mendukung, dan membantu.

Apabila para Generasi X mereka terbiasa melakukan berbagai aktivitas secara mandiri, tidak demikian halnya dengan Generasi Y. Orangtua dari Gen Y mendampingi anak-anaknya melakukan berbagai aktivitasnya. Anak adalah pusat perhatian keluarga. Selain karena keadaan lingkungan yang makin mengancam dan kehadiran anak yang memang sangat diharapkan di tengah keluarga, para orangtua dari generasi Y ini pun cenderung bersikap protektif dan terobsesi dengan keselamatan anaknya.  Sebagai contoh, pada Generasi X adalah hal yang jamak ketika mereka mendaftar sekolah atau kuliah secara mandiri. Pada saat melamar kerja, mereka datang sendiri ke tempat tes seleksi berlangsung. Namun saat ini, akan banyak kita temukan para Gen Y datang melamar kerja dan menjalani proses seleksi kerja dengan ditemani oleh kedua orangtuanya, bahkan para orangtuanya rela menunggu berjam-jam hingga tes seleksi berakhir.

Para Generasi Y tumbuh di lingkungan dimana ia mendapat perhatian dari orang tua dan para guru, mereka senantiasa diyakinkan bahwa mereka istimewa dan memiliki arti bagi lingkungannya. Para orangtua dari Gen Y rata-rata memiliki tipe helicopter parents, orangtua yang senantiasa berada di sekeliling anaknya, tidak hanya sekedar memastikan keselamatan anaknya, namun juga agar anak mereka mendapatkan setiap kesempatan dan keuntungan tertentu (Zemke, Raines, & Filipczak, 2013). 

Perlakuan orangtua ini di satu sisi membentuk karakter mereka menjadi sosok yang optimis, yakin bahwa masa depan yang cerah dan kesuksesan akan mereka raih. Mereka juga memiliki harga diri (self-esteem) yang tinggi dan mempunyai heroic spirit, menilai dirinya membawa perubahan dan berjasa bagi lingkungannya. Dibesarkan dalam kesetaraan, membuat mereka asertif dalam mengutarakan pendapat dan menuntut keadilan dalam perlakuan. Di sisi lain, berkurangnya makna hirarki bagi mereka dan kecenderungan melihat siapapun dalam posisi setara membuat mereka sering dicap kurang santun dalam bersikap terhadap pihak yang lebih senior. Ditambah lagi dengan rasa percaya diri yang cenderung terlalu tinggi membuat mereka mendapatkan gelar “big head small body” karena dinilai merasa paling tau akan segala hal meski pengalaman mereka belumlah banyak. Kendali kuat dari orangtua mendorong mereka untuk kurang mandiri dalam bertindak, namun juga tidak suka apabila dibatasi dengan aturan.

Suka tidak suka, mau tidak mau, patut diakui bahwa para Generasi Y harus dipersiapkan untuk menerima tongkat estafet. Sama seperti generasi sebelumnya, mereka pun memiliki karakter positif sekaligus negatif. Janganlah terjebak pada mitos mengenai karakter Gen Y, namun lihatlah pada fakta mengenai karakter mereka. Optimalkan kecanggihan mereka menggunakan teknologi, berikan harapan yang positif, dan bersama-sama melakukan tindakan, maka itu adalah formula untuk bekerja sukses bersama Generasi Y. Dengan memahami bagaimana kondisi sebuah generasi lahir dan berkembang akan membantu kita memahami mengenai karakter generasi tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Napoleon Bonaparte, “If you want to know how a man thinks, imagine the world when they were young."

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.