Saling Percaya dalam Rantai Pasok

Kolaborasi efektif, bahkan stabilitas jangka panjang dalam rantai pasok memerlukan saling-percaya di antara semua mitra dalam rantai pasok. Bagaimana saling-percaya ini timbul?

Rosa Sekar Mangalandum
Text and image block

Oleh : Rosa Sekar Mangalandum, M.M. Trainer, Executive Development Program

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Dalam siaran pers tertanggal 17 Januari 2017, Badan Antirasuah Inggris (SFO) mengumumkan 12 kasus konspirasi suap, korupsi, dan akunting palsu yang dilakukan Rolls-Royce dengan para pembelinya ( buyer ) di 7 negara, termasuk Indonesia. Menurut BBC News, konspirasi di Indonesia melibatkan seorang karyawan senior Rolls-Royce yang menjanjikan sebuah mobil Rolls-Royce Spirit Car dan uang senilai US$ 2,2 juta kepada perantara di perusahaan buyer. Walhasil, tuntutan pidana tak hanya menjegal pemasok, tetapi juga buyer.

Bila Anda seorang manajer pengadaan, dapatkah Anda memercayai pemasok seperti Rolls-Royce?

Prinsip manajemen rantai pasok sebenarnya sederhana. Jaringan rantai pasok, mulai dari pemasok paling awal hingga konsumen akhir, dikelola sedemikian rupa untuk menciptakan kesuksesan satu rantai bersama, alias keunggulan kompetitif. Kata lainnya, kolaborasi.

Relasi menyuap-disuap antara Rolls Royce dengan buyer bukanlah kolaborasi yang dimaksud oleh prinsip rantai pasok. Kasus ini mencerminkan sebuah rantai pasok yang gagal membangun keunggulan. Kini perusahaan-perusahaan yang terlibat harus menghadapi tuntutan pidana. Ke depan, mereka berisiko kehilangan kepercayaan dari pemasok ataupun buyer lainnya, padahal faktor tersebut berpengaruh signifikan terhadap kesuksesan rantai pasok.

Seorang akademisi dalam bidang manajemen rantai pasok dari Arizona State University, Mark Barrat, meneliti pada tahun 2004 bahwa budaya kolaboratif dalam rantai pasok ditopang oleh 4 elemen budaya: kepercayaan, hubungan timbal balik, pertukaran informasi, serta keterbukaan dan komunikasi. Tak mengherankan bila Barrat menemukan banyak elemen manusiawi dalam penelitiannya. Meskipun melibatkan, banyak elemen teknis di permukaan, pada dasarnya rantai pasok dijalankan oleh manusia.

Kolaborasi efektif, bahkan stabilitas jangka panjang dalam rantai pasok memerlukan saling-percaya di antara semua mitra dalam rantai pasok. Bagaimana saling-percaya ini timbul?

Secara universal, ternyata kepercayaan memiliki hubungan dengan kadar hormon oksitosin dan hormon stres dalam tubuh manusia. Melalui penelitian 16 tahun Paul J. Zak, Profesor ekonomi, psikologi, dan manajemen dari Claremont Graduate University, membuktikan bahwa oksitosin meningkatkan empati manusia. Oksitosin juga mengurangi rasa takut untuk memercayai orang lain yang belum dikenal. Sebaliknya, semakin tinggi kadar stres, semakin rendah kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain.

Berdasarkan pemahaman tersebut, ada 5 perilaku yang dapat ditanamkan untuk membangun rantai pasok dengan tingkat saling-percaya yang tinggi.

Akui Keunggulan

Manufaktur piawai dalam pabrikasi, sedangkan distributor piawai dalam jaringan penjualan. Setiap entitas memiliki keahlian proses yang berbeda dalam rantai pasok. Akui dan hargailah keahlian mitra-mitra yang membangun rantai pasok bersama Anda.

Berikan “Stres Tantangan”

Familiar dengan kejadian ketika distributor mengirimkan order yang besarnya tak masuk akal kepada manufaktur secara mendadak? Kadang-kadang ini dilakukan untuk menutupi ketidakmampuan menjual dengan kegagalan mitra manufaktur. “Stres tantangan” bukanlah itu, melainkan memberi tantangan produksi ataupun penjualan yang dapat dicapai, bukan hanya mitra, tetapi keseluruhan rantai pasok.

Bagikan Informasi yang Relevan

Semakin banyak rantai pasok yang tertarik pada metode vendor-managed inventory (VMI) dan collaborative planning forecasting and repelenishment (CPFR). Kunci suksesnya? Bagikan informasi relevan, misalnya pola permintaan atau jadwal pengiriman dalam rantai pasok. Rantai pasok bukan hanya aliran produk dan uang, melainkan aliran informasi juga.

Bangun Hubungan secara Sengaja

Penelitian neurosains Zak menunjukkan, ketika manusia menjalin relasi sosial di lingkup pekerjaan secara sengaja, kinerja mereka meningkat. Jangan batasi rantai pasok Anda pada target produksi dan penjualan saja, tetapi berikan ruang secukupnya untuk sosialisasi. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial.

Minta Bantuan

Ada pandangan bahwa minta bantuan adalah menunjukkan kelemahan. Pandangan sebaliknya di dalam rantai pasok adalah mitra dapat membantu mencapai kesuksesan bersama. Anda bisa minta bantuan pemasok atau buyer untuk informasi atau koneksi bisnis di daerah lain yang bisa membantu pengembangan rantai pasok, tentunya dengan cara yang tidak melanggar hukum.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.