Ramadan and Seasonal Entrepreneur

Customer segment talking about who your target consumers. An entrepreneur must be able to clearly map out who the customers are, what its intentions are, and how the behavior of their consumption.

PPM Manajemen3
Text and image block




Oleh: Noveri Maulana M.M.Faculty Member PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Momen Ramadhan bukan saja sekadar bulan peribadatan bagi umat muslim Tanah Air. Namun, Ramadhan juga menjadi sinyal bagi para pelaku industri untuk meningkatkan aktivitas bisnis mereka, terutama industri makanan, minuman, pakaian, dan semua hal terkait fast moving consumer goods (FMCG). Bagi negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, bulan suci Ramadhan menjadi sebuah fenomena unik terkait berubahnya pola perilaku konsumen di berbagai sektor industri.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) mengungkapkan bahwa selama Ramadhan terjadi kenaikan tingkat konsumsi masyarakat sebesar 30%. Bahkan, data Kementerian Perdagangan tahun 2014 mengungkapkan tingkat kenaikan konsumsi masyarakat di Ramadhan mencapai 40% dibandingkan bulan-bulan biasanya. Hal ini mengindikasikan bahwa potensi ekonomi di Ramadhan memberi peluang bisnis yang menggiurkan bagi pelaku usaha.

Tingkat konsumsi yang terus meningkat juga memberi indikasi adanya kenaikan jumlah transaksi. Meningkatnya jumlah permintaan yang tidak sebanding dengan suplai yang ada seringkali menjadi isu bagi pelaku usaha dalam menghadapi fenomena bisnis di Bulan Ramadhan. Persoalan timpangnya supply dan demand selalu menjadi isu utama dalam menghadapi fenomena ekonomi di bulan ini.

Keterbatasan produksi dan kemampuan untuk melayani menjadi tantangan besar yang sering dihadapi oleh para pelaku usaha. Entah itu pebisnis besar atau menengah, namun juga menimpa sektor bisnis kecil dan industri rumahan. Kenaikan jumlah permintaan yang tak sebanding dengan kemampuan produksi selalu menjadi tantangan tersendiri.

Namun, gap ini ternyata menjadi sebuah celah bagi lahirnya pelaku bisnis baru, para kelompok entrepreneur musiman. Melihat peluang dan potensi pasar yang menggiurkan, banyak orang yang memberanikan diri untuk ikut mengadu nasib menjadi wirausahawan musiman. Banting setir dari profesi sehari-hari dan terjun ke tengah kompetisi berbekal sedikit kompetensi. Kelompok wirausahawan musiman ini seakan menjadi sebuah anomali, mempertontonkan bahwa bisnis bukan melulu soal kemampuan, tapi soal kemauan.

Lantas apa yang terjadi? Para entrepreneur musiman ini seringkali terjebak pada sebuah iklim kompetisi yang tidak bisa mereka atasi. Ternyata, setelah terjun ke tengah pasar, modal kemauan yang mendasari aktivitas mereka seringkali tidak sesuai dengan apa yang diinginkan pasar. Perilaku konsumen yang dinamis tidak mampu mereka tafsirkan dengan tepat. Alhasil, semangat berusaha yang telah menggebu-gebu sebelumnya mulai larut dirundung kecewa.

Fenomena kemunculan entrepreneur musiman ini memberi bukti bahwa kemampuan mengembangkan potensi bisnis di tengah masyarakat kita sudah mulai berkembang. Kemampuan membaca peluang dan menghadapi ancaman menjadi modal dasar untuk memulai sebuah usaha yang disebut sebagai entrepreneur. Entah itu sekadar upaya untuk merespon pasar, atau memang menciptakan kreasi bisnis yang berdaya jual tinggi. Namun, yang paling penting dipahami ialah bisnis bukan saja soal kemauan, tapi ia butuh kompetensi dan sederet kemampuan.

Profesi atau Sekadar Sensasi?

Bagi entrepreneur, memulai usaha bisa berawal dari dua hal. Pertama ialah untuk merespon keinginan pasar, dan kedua ialah kemampuan untuk menciptakan kreasi yang mampu dibeli oleh konsumen yang ditargetkan. Jika berbisnis hanya dimulai oleh salah satu dari kedua alasan itu, maka yakin dan percayalah bisnis Anda tidak akan mampu bertahan.

Osterwalder (2010) dalam bukunya yang popular: “Business Model Generation”,  menyatakan bahwa terdapat sembilan komponen penting untuk menggambarkan model bisnis yang dijalankan oleh sebuah perusahaan. Seluruh model bisnis yang ada digambarkan ke dalam sebuah kertas kanvas untuk mempermudah pelaku usaha membaca proses bisnis yang mereka kerjakan. Dari Sembilan komponen tersebut, dua komponen yang paling menarik untuk kita kaji dalam topik ini ialah mengenai “Customer Segment” dan “Value Proposition”.

Customer segment berbicara mengenai siapa konsumen yang Anda target. Seorang entrepreneur harus mampu dengan jelas memetakan siapa pelangganya, apa keinginannya, dan bagaimana perilaku konsumsinya. Pengetahuan terhadap customer segment akan menentukan arah bisnis dan strategi apa yang akan diterapkan oleh si pelaku usaha. Semakin paham terhadap konsumen, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan konsumsi mereka terhadap produk dan layanan bisnis kita.

Sedangkan value proposition menjadi tolak ukur yang membedakan usaha kita dengan kompetitor yang ada di tengah pasar. Proposisi nilai yang ditawarkan kepada konsumen adalah titik di mana keinginan dan kebutuhan konsumen bisa dipenuhi melalui produk dan layanan yang ditawarkan. Namun, pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen itu juga harus memerhatikan aspek ‘unik’ dan ‘berbeda’ sehingga mampu memenangkan kompetisi. Puas saja belum cukup membuat kita bangga, tapi puas dan mengidolakan produk dan layanan Anda adalah tujuan berusaha.

Inilah yang seharusnya menjadi pemikiran dasar untuk memulai bisnis bagi para entrepreneur musiman di bulan Ramadhan. Jika mereka ingin berbisnis sebagai sebuah profesi, sudah sepatutnya mereka tidak terjebak pada kemauan semata, tapi juga memerhatikan kompetensi dan kemampuan yang ada. Namun, jika mereka memang hanya mencari sensasi, membuktikan bahwa entrepreneur di bulan Ramadhan mampu memenuhi pundi-pundi, maka sebuah prestasi jika mereka mampu bertahan sampai lebaran.

Jadi, apakah bisnis Anda di bulan suci ini akan menjadi profesi atau sekadar sensasi? Mari kita lihat setelah lebaran!



Leave a comment

You must be logged in to post a comment.