Prinsip Penerapan Green Logistics

Konsep ini berawal dari kesadaran organisasi, masyarakat, dan pemerintah untuk menciptakan kondisi manufaktur, transportasi, dan proses distribusi yang minim polusi.

Ricky Virona Martono
Text and image block

Oleh : Ricky Virona Martono Trainer, Executive Development Program *Tulisan ini dimuat di SWA Online

Green Logistic s adalah konsep logistik mulai dari proses pengolahan barang hingga konsumen dapat menggunakan barang tersebut, dengan penekanan tidak merusak lingkungan dan menggunakan sebanyak mungkin bahan mentah yang ramah lingkungan. Setelah pemakaian, barang dikirim kembali dari konsumen kepada produsen untuk diperbaiki atau diolah menjadi barang yang tetap ramah lingkungan ( recycle ).

Sistem green logistics memfasilitasi pengambilan limbah dari konsumen ke lokasi daur ulang. Konsep ini berawal dari kesadaran organisasi, masyarakat, dan pemerintah untuk menciptakan kondisi manufaktur, transportasi, dan proses distribusi yang minim polusi.

Contoh penerapan green logistics adalah pengurangan konsumsi bahan bakar, penggunaan moda transportasi yang menimbulkan polusi (udara, suara) yang rendah, kerjasama dengan konsumen dan masyarakat dalam menghasilkan ide-ide baru untuk green logistics (misalnya penelitian di perguruan tinggi).

Menurut laporan dari U.S. Environmental Protection Agency di tahun 2007, Amerika menghasilkan sekitar 2,25 juta ton limbah dari peralatan elektronik (televisi, komputer, dan lainnya). Hanya 18% nya saja yang didaur ulang, dan sisanya ditimbun.

Pabrik Toyota di Amerika Utara pada dekade awal tahun 2000 berhasil mengurangi emisi gas buangan Volatile Organic Compund (VOC) sebesar 61% dari 35 gram/m 2 menjadi 13,7 gram/m 2 . Reaksi VOC dengan Nitrogen sendiri dapat membahayakan kesehatan manusia.

Tahun 2007, perusahaan Samsung memulai Recycling Direct Program , dimana Samsung bekerja sama dengan pemasok dan distributornya untuk mengambil barang-barang elektronik sisa pemakaian. Samsung menyediakan ratusan lokasi bagi konsumen untuk menyerahkan produk elektronik yang sudah tak terpakai (barang merek Samsung maupun yang bukan Samsung). Program ini berhasil mendaur ulang sebanyak 7 juta kilogram barang elektronik bekas.

Selain itu, Samsung juga menjamin bahwa produk-produknya terbuat dari bahan yang aman, tidak berbahaya, dan dapat didaur ulang. Pendekatan dari Samsung ini menghasilkan proses produksi, distribusi, dan daur ulang produk yang hemat biaya dan energi bagi Samsung dan konsumennya.

Perusahaan lain yang menerapkan konsep green logistics adalah HP dengan programnya HP’s Supply Chain Social and Environmental Responsibility Policy . Perusahaan printer HP (Hewlett Packard) memiliki komitmen bagi pemasok-pemasoknya di seluruh dunia untuk peduli akan lingkungan sebagai komponen yang merasakan dampak dari polusi manufakturnya.

HP terdorong menerapkan konsep green logistics setelah menemukan bahwa salah satu pemasok bahan mentah berupa biji plastik di Afrika memperlakukan buruhnya dengan tidak manusiawi. Mereka dipaksa bekerja lebih dari 12 jam per hari, digaji di bawah standar upah yang layak, kondisi kerja yang penuh polusi dan berisiko bagi keamanan dan keselamatan buruhnya.

Setelah itu HP dan pemasok-pemasoknya bekerja sama untuk mewujudkan hal-hal berikut:

  1. Legal and Regulatory Compliance : Pemasok harus memastikan bahwa proses, produk, dan layanan yang dipasok ke HP telah mematuhi semua peraturan dan hukum di negara dimana pemasok itu berada.
  2. Environmental Performance Improvement : Pemasok harus memahami dan mengurangi efek dari proses, produk, dan layanannya terhadap lingkungan hidup. Termasuk di dalamnya adalah usaha mengurangi penggunaan energi, meminimumkan pemakaian barang berbahaya, dan mempromosikan usaha daur ulang dan pengurangan polusi terhadap udara, tanah, dan air.
  3. Conflict Minerals : Pemasok didorong untuk menjamin bahwa bahan dan produk yang dipasok ke HP adalah barang-brang yang DRC conflict-free , yaitu barang-barang yang bukan diperoleh dari kawasan/negara yang terlibat/menguntungkan kelompok bersenjata.
  4. Management Systems : Pemasok wajib menerapkan sistem manajemen yang efektif yang mengintegrasikan aspek lingkungan, keselamatan kerja, hak pekerja, dan etika bisnis.
  5. Transparency : Pemasok wajib melaporkan kepada HP dalam jangka waktu 48 jam mengenai kecelakaan-kecelakaan yang menyebabkan luka, cidera, dan kekerasan atau konflik pekerja.

Lalu kita dan perusahaan kita dimana? Sudahkah menerapkan green logistics?

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.