Perang Model Bisnis: X is The New King

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam memenuhi kebutuhan konsumen cenderung sukses menjawab tantangan zaman lebih cepat.

I Gede Christian Adiputra
Odoo image and text block

 

Oleh: I Gede Christian Adiputra, M.M. Trainer & Consultant PPM Manajemen

*Tulisan ini tayang di Majalah Sindo Weekly No. 26 Tahun VI 28 Ags 2017 - 3 Sep 2017

Cash is King, ungkapan lama yang masih menjadi pedoman kebanyakan perusahaan untuk tetap bertahan di belantika bisnis. Keadaan kas perusahaan juga sering dijadikan patokan oleh investor dalam meramu portofolio investasinya.

Namun, apakah kondisi kas cukup relevan lagi sebagai bekal untuk sukses di persaingan yang semakin sengit? Sudah tidak lagi tabu kalau sekarang perusahaan baru (start up) yang minim kas bisa dengan mudah menguasai medan perang. Senjata rahasianya adalah, model bisnis yang mutakhir.

Renald Khasali menganalogikan secara sederhana melalui kisah pertarungan model bisnis pedangdut Inul Daratista dengan Rhoma Irama. Betapa keduanya berlomba di industri hiburan melalui model bisnis yang berbeda. Inul dengan model bisnis panggung hiburannya, sementara Rhoma setia dengan model bisnis royalti. Tentu saja model bisnis yang mengikuti perkembangan zaman yang menang, karena tumbuh pesat.

Model bisnis yang memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam memenuhi kebutuhan konsumen cenderung sukses menjawab tantangan zaman lebih cepat. Istilah terkenal dari fenomena ini adalah disrupsi teknologi.

Era Disrupsi Teknologi Menurut Forbes, tahun ini akan ada 5 tren disrupsi teknologi, yaitu automasi keuangan fintech, big data yang semakin canggih, internet of everything, mobile transactions in any way, dan eksplorasi alam semesta yang semakin mudah. Tren tersebut bak komik science-fiction yang nyata di hadapan kita.

Nah, tentu saja hal ini jangan hanya sekadar fenomena semata, tapi kita sebagai organisasi harus ambil peran yang signifikan. Membuat perubahan pada status quo yang dapat meningkatkan eksistensi perusahaan di hadapan konsumen.

Pesatnya disrupsi teknologi membuat beberapa perusahaan besar tumbang dari berbagai industri. Masih ingat dampak yang terjadi akibat hadirnya Amazon, Uber, Netflix, SpaceX, atau Airbnb? Kasus-kasus tersebut bisa menjadi renungan. Those new players didn’t kill the incumbents, they did to themselves. Ya, perusahaan-perusahaan besar tumbang karena model bisnisnya statis dan minim inovasi.

X is The New King Menurut buku X: The Experience When Business Meets Design karangan Brian Solis, “without defining experiences, brands will become victim to whatever people feel and share.” Di dunia yang tanpa batas dan akses informasi yang berlimpah, pengalaman yang bermakna bagi konsumen adalah yang utama dalam kesukesan suatu produk. Sebagus apapun produk yang dimiliki takkan pernah cukup untuk memenangkan persaingan. But its X does.

Salah satu contoh kasus perusahan yang tidak tergerus era disrupsi teknologi adalah perusahaan boneka American Girl. Mereka sukses bertahan dan terus tumbuh di ladang yang penuh rumput disrupsi. Satu strategi yang digunakan adalah memberikan segala bentuk pengalaman kepada konsumen tentang produknya. Misalnya, mereka memberikan media story telling tentang boneka, pengalaman membawa boneka di jamuan makan malam atau berbelanja ke mall, bahkan konsumen diberikan kesempatan mengenal boneka lebih personal dengan kesamaan-kesamaan yang dimiliki.

Kekomprehensifan pengalaman yang ditawarkan ini membuat pesaing yang disruptif kesulitan untuk mencuri pangsa pasar. This simply confirms that X to be the New King.

Kembali ke tren disrupsi teknologi oleh Forbes di atas, yaitu teknologi big data yang semakin canggih, kita bisa jemput bola di ranah ini. Dengan bantuan big data, kita bisa menganalisis bagaimana konsumen menggunakan produk kita, termasuk apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka katakan tentang produk kita. Dari hasil analisa tersebut, secara realistis kita dapat merancang suatu pengalaman yang bermakna untuk produk yang sesuai dengan ekspektasi konsumen. Dengan begitu, perusahaan bisa ambil ancang-ancang untuk lari melesat.

Sebenarnya, ketakutan pemain lama di industri terhadap pesaing yang disruptif terlalu berlebihan. Pasalnya, mereka akan kalah bukan semata-mata karena adanya pesaing yang disruptif tetapi karena mereka lambat dalam menjawab tantangan perubahan zaman. Model bisnis mereka terlalu kompleks untuk melayani konsumen yang membutuhkan simplicity.

Pun bisa ditarik benang merah bahwa bukan jumah kas yang melimpah atau berapa panjang sejarah yang dimiliki, tapi perusahaan yang memberikan pengalaman yang berbeda, yang lebih sesuai dengan ekspektasi konsumennya, dan simplicity yang lebih masuk akal, yang akan memenangkan kompetisi pangsa pasar.

Satu kalimat dari Oliver Wendell Holmes, Jr., seorang ahli hukum Amerika, sepertinya cukup untuk menutup tulisan ini; “A mind that is streched by a new experience can never go back to its old dimensions.”

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.