Menjaga Ilmu Pengetahuan

Bagi institusi pendidikan, keberadaan Knowledge Center sebenarnya tidak serta merta meninggalkan fungsinya sebagai perpustakaan, namun memadukannya dengan bahan multimedia digital.

Suhendi

lmu pengetahuan adalah bahan bakar utama untuk menggerakan lahirnya inovasi. 

Masih lekat di ingatan, tatkala penulis masih duduk di Sekolah Dasar dan tak sabar menunggu datangnya hari Sabtu, hari dimana dengan bangga mengenakan seragam Pramuka. Di hari itu juga, penulis bersama teman-teman mengunjungi rumah keajaiban, rumah ilmu pengetahuan, rumah dimana kami bisa memasuki dunia, pintu menuju kemana pun kami suka. Rumah itu adalah Perpustakaan. 

Sembari membawa buku pinjaman minggu lalu, kami pun meminjam buku baru, dan biasanya kami saling berbangga akan buku-buku yang kami pinjam itu. Menilik sejarah, keberadaan Perpustakaan tercatat sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu,  Bangsa Arab yang telah mengenal tulisan, biasanya menyimpan semua karya tulisan tersebut dalam ruangan khusus yang mereka sebut Al Maktabah, inilah mungkin cikal bakal perpustakaan moderen seperti yang kita lihat sekarang. 

Bangsa Romawi  tatkala masih berjaya dan menguasai banyak wilayah hingga ke Afrika Utara juga membangun perpustakaan di hampir semua wilayah jajahannya. Beberapa manuskrip mencatat perpustakaan Bangsa Romawi sudah ada sejak Abad 100 M. salah satu yang terbesar adalah Ulpian. 

Kini Perpustakaan tidak hanya menyimpan, mengelola dan mendistribusikan buku atau karya berupa tulisan lainnya saja, saat ini sesuai dengan perubahan jaman, perpustakaan telah menjelma menjadi pusat ilmu pengetahuan. Bukan semata menyimpan dan mengelola ilmu pengetahuan, sebuah perpustakaan juga memegang peran penting dalam proses penciptaan ilmu pengetahuan tersebut. 

Perpustakaan tidak lagi hanya dianggap sebagai sebuah gedung yang terdapat ruangan-ruangan yang dipergunakan untuk menyimpan koleksi bahan pustaka seperti; buku atau monograf, terbitan berseri, brosur, atau pamflet dan bahan non pustaka lainnya. Dimana koleksi bahan pustaka tersebut dipergunakan oleh pemustaka dan bukan untuk diperjualbelikan. 

Itulah perpustakaan dalam paradigma lama. Saat ini, perpustakaan telah bertransformasi menjadi rumah ilmu pengetahuan yang hidup, dinamis, segar menawarkan hal-hal yang baru, produk layanan yang inovatif, dan dikemas sedemikian rupa, sehingga apapun yang ditawarkan oleh perpustakaan akan menjadi atraktif, interaktif, edukatif, dan rekreatif bagi pengunjungnya. Demi alasan tersebut lah kini perpustakaan disebut sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan, The Knowledge Center. 

Bagi institusi pendidikan, keberadaan  Knowledge Center sebenarnya tidak serta merta meninggalkan fungsinya sebagai perpustakaan, namun memadukannya dengan bahan multimedia digital, sehingga diharapkan lebih menumbuhkan semangat kreatif dan menstimulasi tumbuhnya pemikiran-pemikiran yang luar biasa. 

Di saat yang bersamaan  Knowledge Center mendukung institusi pendidikan untuk pemutakhiran bahan ajar, proses KBM yang tidak hanya kondusif namun juga menyenangkan, menumbuhkan semangat lahirnya komunitas para pembelajar, menumbuhkan semangat inovasi serta menumbuhkan semangat untuk menciptakan ilmu pengetahuan. Tentunya juga di saat yang bersamaan secara internal  Knowledge Center  secara berkesinambungan menyempurnakan pelayanan kepada para penggunanya. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan,  Knowledge  adalah bahan bakar utama untuk menggerakan lahirnya inovasi. Mengacu pada pemahaman inilah, sudah sewajarnya  Knowledge Center  terlebih pada institusi yang meletakkan ilmu pengetahuan sebagai aset utamanya, dikelola secara profesional, dan disesuaikan dengan ritme pertumbuhan organisasi, dan tantangan yang dihadapi oleh organisasi

Ada banyak cara yang ditempuh oleh beragam institusi untuk mengelola ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Masalahnya tidak semua ilmu pengetahuan dapat dengan mudah dituliskan, untuk kemudian dibaca ulang dan dipraktikkan. Ada juga ilmu pengetahuan yang masih berada dalam diri tiap-tiap individu dalam organisasi, ilmu yang mereka dapatkan melalui serangkaian panjang proses pembelajaran dan implementasi di lapangan. 

Ilmu pengetahuan yang seperti itu kemudian dikenal sebagai  Tacit Knowledge,  ini sangat penting untuk dikumpulkan, dikelola dan jika mungkin dikembangkan, sehingga alih-alih  hilang,  Tacit Knowledge  akan terus ada di dalam organisasi tidak hanya didokumentasikan, namun dikelola dan dikembangkan, disesuaikan dengan aspek kekinian, dan diperkaya dengan khasanah ilmu yang lain. 

Dalam tataran mendukung organisasi menyikapi perubahan dan tantangan, sepertinya  knowledge center  telah mengemban tugasnya dengan baik, namun untuk mengumpulkan ilmu pengetahuan lainnya, terlebih  Tacit Knowledge, sudah selayaknya para pengambil keputusan juga ikut urun rembuk sehingga proses pengumpulan ilmu pengetahuan tersebut menjadi sesuatu yang formal, dan mutlak harus mendapat dukungan penuh dari semua pemangku kepentingan dalam organisasi. 

Ingatlah  Knowledge is precious!  Jika ingin bertahan dan terus berinovasi, kelolalah ilmu pengetahuan dengan baik! 

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.