Mengurangi Risiko Gagalnya Tol Laut

Karena setiap stakeholder memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang berbeda terhadap sebuah proyek, maka pendekatannya pun berbeda.

Ricky Virona Martono
Odoo image and text block

 

Oleh: Ricky Virona MartonoTrainer, Executive Development Services – PPM Manajemen.

*Tulisan ini dimuat di SWA Online


 
Bicara sebuah proyek, sejatinya pembangunannya akan berjalan baik ketika segenap stakeholder ikut mengetahui, memantau, dan mendukung jalannya proyek tersebut. Pada kenyataannya, tidak semua stakeholder memiliki akses informasi terhadap keberhasilan sebuah proyek, di sisi lain juga menuntut tanggung jawab dan ingin mengetahui perkembangan proyeknya untuk kepentingan organisasi.

Hal di atas juga berlaku pada proyek Tol Laut yang saat ini sedang dibangun Nusantara. Jika ikatan dengan stakeholder terjalin baik, hasil sebuah rencana dan kegiatan akan sangat signifikan. Masyarakat pun ikut mendukung dan pasti dengan segera menikmati hasilnya.

Sejatinya langkah menjalin kerjasama dengan stakeholder ini diawali dengan memetakan stakeholder itu sendiri.

Mereka dipetakan menurut pengaruh (power) dan kepentingan (interest) terhadap sebuah proyek – dalam hal ini adalah pembangunan Tol Laut – untuk tujuan komunikasi dan kontrol dari pelaksana dan pemilik proyek kepada stakeholder-nya.

Power menunjukkan bagaimana stakeholder dapat memengaruhi keberlangsungan dan menentukan arah pembangunan proyek. Contoh: Pemerintah Indonesia memiliki power yang tinggi, masyarakat Indonesia memiliki power yang rendah.

Interest menunjukkan tingkat kepentingan dan ketertarikan stakeholder terhadap keberhasilan sebuah proyek. Rakyat Indonesia dan kalangan pengusaha memiliki interest yang tinggi karena hasil pembangunan Tol Laut sangat memengaruhi kegiatan mereka. Yang memiliki interest rendah adalah mereka yang kegiatannya tidak terpengaruh oleh keberhasilan pembangunan Tol Laut, misalnya: pengusaha yang cakupannya di dalam satu kota saja, karyawan swasta, guru.

Setelah dilakukan pemetaan, pelaksana proyek melaksanakan strategi kerjasama, komunikasi, dan kontrol yang berbeda menurut posisi stakeholder tersebut. Karena setiap stakeholder memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang berbeda terhadap sebuah proyek, maka pendekatannya pun berbeda. Strategi ini diterapkan secara rutin sesuai kebutuhan dan perkembangan proyek.

Ilustrasi pemetaan stakeholder adalah sebagai berikut1:

Stakeholder yang memiliki kepentingan (interest) yang tinggi dan kekuatan (power) yang tinggi terhadap keberhasilan proyek –misalnya, Bank Dunia yang memberi pinjaman dana untuk pembangunan infrastruktur Tol Laut- harus dikelola sebaik mungkin, dipuaskan keinginannya, dan dibina hubungannya setelah proyek berakhir.

Pemerintah Indonesia sebagai pemilik dan pelaksana proyek juga harus rutin memberi laporan pertanggungjawaban penggunaan uang yang dipinjam, kemana aliran uang, digunakan untuk apa, bagaimana perkembangan pembangunan infrastruktur, kendala yang dihadapi, dan potensi peningkatan ekonomi dengan pembangunan tersebut. Pada akhirnya Bank Dunia menginginkan rate of return yang menguntungkan.

Stakeholder yang memiliki kepentingan (interest) yang tinggi dan kekuatan (power) yang rendah terhadap keberhasilan proyek –misalnya, masyarakat- harus terus dikabari perkembangan proyek sampai selesai. Memang masyarakat tidak dapat memengaruhi keberhasilan dan keberlangsungan pembangunan infrastruktur, namun dapat memberi masukan atau kritik melalui media massa. Di sisi lain, masyarakat menuntut keberhasilan karena pembangunan infrastruktur menggunakan dana masyarakat juga, yaitu melalui pajak. Keberhasilan pembangunan pun akan mendorong masyarakat lebih percaya kepada Pemerintah dan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat.

Terhadap stakeholder dengan power rendah dan interest tinggi perlu dipuaskan dengan menyediakan sarana diskusi melalui media massa dan menyediakan informasi yang mereka butuhkan supaya mereka yakin proyek Tol Laut berjalan sesuai koridor yang disepakati.

Untuk stakeholder dengan power dan interest rendah, informasi yang disampaikan oleh pemilik dan pelaksana proyek dapat menjadi rujukan keberhasilan (benchmark) dalam menerapkan rencana proyek.

Rencana dan proses pelaksanaan proyek harus dikomunikasikan secara berkala oleh Pemerintah Republik Indonesia (sebagai pemilik dan pelaksana proyek Tol Laut) kepada seluruh pihak yang berkepentingan. Bentuk komunikasi ini bisa berupa laporan formal atau pengumuman resmi melalui surat kabar.

Pada akhirnya, strategi komunikasi dan kontrol ini diharapkan dapat memuaskan harapan stakeholder dan mengurangi risiko kegagalan proyek.


1 Angel, George G. Identify stakeholders’ tools and techniques* PMP Certification: A beginner’s guide. McGraw-Hill companies. 2010.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.