Kolaborasi: Tindakan atau Pemikiran?

Dengan mengetahui kelemahan, organisasi menyadari perlunya memberi kesempatan menyuarakan pemikiran yang lebih detail untuk melengkapi gambaran besar eksplorers dan energizers.

Gerald Pasolang

Hasil riset dari jurnal Harvard Business Review menjelaskan bahwa untuk dapat berkolaborasi dalam tim ternyata tidak cukup hanya dengan menyelaraskan tindakan tetapi juga diperlukan penyelarasan pemikiran. 

Dalam riset tersebut dijelaskan lebih lanjut bahwa gaya berpikir suatu organisasi dapat dikelompokkan berdasarkan fokus dan orientasi dengan matriks sebagai berikut: 

Text and image block

Explorer,  adalah gaya berpikir yang menghasilkan ide-ide kreatif;  Planner,  merancang sistem yang efektif;  Energizer,  yakni menggerakkan tim untuk bertindak;  Connector,  membangun dan memperkuat hubungan;  Expert,  mencapai sasaran dan wawasan;  Optimizer,  meningkatkan produktivitas dan efisiensi;  Producer,  mencapai penyelesaian dan momentum;  Coach,  mengembangkan orang dan potensi. 

Berdasarkan uraian diatas kita dapat mengevaluasi gaya berpikir organisasi saat ini seperti apa, sehingga menjadi jelas mengapa masalah tertentu menantang atau membosankan, dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki hal tersebut agar sasaran organisasi tercapai. 

Prakteknya pada suatu perusahaan ditemukan bahwa pada perusahaan tersebut sebagian besar manajer dan pemimpinnya adalah pemikir gambaran besar (explorer) dan pemikir tindakan (energizer  dan  producer) tetapi sangat sedikit yang pemikir proses. Sehingga organisasi tersebut memiliki tim yang kuat dengan ide-ide besar dan menggerakkan tim untuk mewujudkan ide-ide tersebut, tetapi lemah dalam hal detail sehingga menjadi tidak efisien. 

Dengan mengetahui kelemahan, organisasi yang disebutkan diatas kemudian menyadari perlunya memberi kesempatan menyuarakan pemikiran yang lebih detail untuk melengkapi gambaran besar eksplorers dan energizers. Sehingga mereka mengubah budaya dan strategi perekrutan untuk menciptakan keseimbangan dan keberagaman gaya pemikiran. 

Contoh penerapannya secara individu dialami oleh seorang pemimpin yang sehari-hari berada di lingkungan pekerjaan yang kaya ide seperti  consulting  dan  marketing. Dengan mengidentifikasi gaya pemikirannya, dia menyadari bahwa selama ini lebih fokus kepada  relationship  dibandingkan ide-ide. Dia lebih cenderung  Connector thinking  dan  Explorer thinking.  Juga lebih sering menggunakan ide-ide untuk memelihara  relationship  dibandingkan menggunakannya untuk mengembangkan ide-ide. Sehingga ia memutuskan perlu mengganti fokusnya dalam bekerja kepada manajemen dan pengembangan bisnis, yang justru semakin memperkuat semangat dan keterlibatan tim. 

Hal yang sama sering dijumpai dalam setiap organisasi. Karena keterbatasan waktu, kolaborasi ditunjukkan dalam bentuk bersama-sama mengeksekusi suatu ide besar atau brilian. Padahal, kolaborasi bukan hanya merupakan tindakan bekerja sama, tetapi juga proses berpikir bersama yang saling melengkapi. 

Jadi seharusnya sebuah tim kolaborasi bekerja dari mulai merumuskan suatu ide sampai mewujudkan ide tersebut. Bahkan, walaupun tim kolaborasi dibentuk untuk mewujudkan suatu ide yang dianggap ‘brilian’, tim kolaborasi tetap harus kembali bersama-sama berpikir untuk menyempurnakan ide brilian tersebut. 

Dengan pemahaman ini, setiap tim dapat memulai diskusi kapan saja untuk melahirkan suatu ide, tidak perlu menunggu adanya inspirasi hebat untuk memulai diskusi. Tidak ada tuntutan bagi setiap anggota tim untuk mencari ide-ide inovasi atau  improvement, tidak ada pula tuntutan bagi anggota tim untuk berpikir detail.  Just do it,  mulai saja proses diskusi dan biarkan pemikiran-pemikiran diutarakan dengan bebas sehingga saling melengkapi dan saling menyempurnakan. 

Istilah satu pikiran agaknya perlu hati-hati diartikan, karena tidak ada gaya pemikiran yang lebih baik dari yang lain, masing-masing ada kekurangan dan kelebihannya, sehingga keberagaman gaya pemikiran diperlukan untuk menyempurnakan keputusan. Pemahaman ini juga akan memampukan untuk dapat mendengarkan orang lain dengan lebih baik, karena menyadari pemikiran kita tidak ada yang sempurna sehingga selalu membutuhkan pemikiran orang lain untuk menyempurnakannya. 

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.