Gig Economy: Do Companies Need to be Worried?

Demographically, millennials owns the biggest percentage in working world and it is predicted that the number could reach up to 75% in 2025. What is surprising is that nowadays more than one-third of the millennials all over the world is freelancers, that is also predicted to be increasing in number.

PPM Manajemen3
Text and image block



Oleh: I Gede Christian Adiputra, M.M.Trainer & Consultant PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 02 Tahun VI,

13-19 Maret 2017 p. 82

Fulltime employment  adalah sifat pekerjaan yang diharapkan sebagian besar lulusan perguruan tinggi. Namun, itu dulu. Saat ini, hal itu mulai terkikis arus deras Gig Economy. Istilah tersebut mungkin  jarang terdengar di telinga kita. Namun, Anda pasti sudah merasakan kehadirannya. Sebut saja Uber dan GO-JEK. Keduanya pasti sudah tak asing lagi bukan?

Apa itu Gig Economy?

Di dalam konteks Gig Economy, pekerjaan paruh waktu atau freelance job menjadi hal yang biasa dilakukan. Perusahaan cenderung lebih mempekerjakan tenaga kerja independen untuk jangka waktu yang pendek ketimbang menjadikannya karyawan tetap.

Fleksibilitas waktu dan efisiensi biaya menjadi alasan utama berkembangnya fenomena ini. Tren pekerja yang gonta-ganti pekerjaan selama masa produktif juga diyakini sebagai cikal bakal dari evolusi Gig Economy.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi juga memberi efek yang signifikan terhadap perilaku manusia di dunia kerja, terutama pada preferensi ruang dan waktu. Jika dahulu seorang karyawan harus pergi ke kantor untuk bekerja, namun era dunia digital sekarang ini, kita bisa bekerja darimana saja dan kapan pun. Efek ini yang dimanfaatkan oleh freelancer untuk mengembangkan karir dengan laju yang lebih cepat dari rule of thumb-nya.

Bila mendengar kata Uber atau GO-JEK, yang teringat adalah teknologi aplikas digital yang simple and useful. Namun, di balik aplikasi tersebut, terdapat freelance drivers yang bekerja berdasarkan kemauan dan kebutuhan pribadi. Di luaran sana, masih banyak aplikasi atau marketplace untuk memasarkan jasa profesional tenaga kerja yang sifatnya paruh waktu. Bukan tidak mungkin, di masa yang tak lama lagi,akan ada  platform sejenis yang konsumen utamanya adalah perusahaan.

 

Perkembangan Gig Economy di dunia

Penelitian EY menyebutkan, 40% perusahaan akan meningkatkan kebutuhan pekerja paruh waktu dalam lima tahun mendatang, 55% dari jumlah perusahaan itu melihatnya sebagai upaya menekan biaya tenaga kerja.

Sebuah studi Intuit Inc. memprediksi pada tahun 2020 tidak kurang dari 40% pekerja Amerika adalah kontraktor individual. Hal ini juga diperkuat dengan laporan dari Spera.io, sebuah platform yang menyediakan segala layanan untuk kantor digital. Mereka memprediksi bahwa setidaknya 50% pekerja Amerika dan Inggris akan ikut menjadi bagian dalam Gig Economy pada 2020.  

Lebih jauh lagi, studi ini juga mempelajari tentang keberadaan kaum millennials. Secara demografis, millennials memiliki persentase terbesar di dunia kerja dan diprediksi mencapai 75% pada tahun 2025. Yang mencengangkan adalah saat ini lebih dari sepertiga millennials di seluruh dunia merupakan freelancers, yang juga diprediksi akan terus meningkat.

Sejatinya perusahaan bisa mengambil banyak keuntungan dari arus Gig Economy. Utamanya Ini lantaran perusahaan hanya mempekerjakan karyawan berdasarkan proyek atau kebutuhan sehingga overhead cost benar-benar terjaga dan tepat sasaran. Biaya untuk benefit atau tunjangan lain bagi karyawan (tetap) juga bisa ‘disimpan’, termasuk biaya pengembangan dan pelatihan yang bukan lagi menjadi tanggung jawab perusahaan.

Lalu pertanyaan lain muncul: apakah fenomena ini akan selalu menguntungan atau malah bisa memberikan efek bumerang bagi perusahaan? Bisa ya, bisa tidak. Ini akan sangat tergantung pada kelincahan perusahaan dalam membidik tenaga profesional yang diperlukan.

Risiko yang dimunculkan oleh Gig Economy juga tidak sedikit, contohnya dalam ranah yang berkaitan dengan kepatuhan terhadap hukum dan undang-undang ketenagakerjaan. Lagi-lagi regulasi kadang hadir terlambat dibanding adanya perubahan dinamis dan ‘sedikit’ mengancam.

Risiko lain yang cenderung akan muncul adalah kemungkinan bocornya kerahasiaan perusahaan, baik bentuknya pencurian langsung maupun dalam bentuk cyber crime. Kebocoran informasi sekecil apapun dampaknya bisa berujung pada kerugian perusahaan. Peran legal & compliance sangat kuat dibutuhkan, serta penerapan manajemen risiko menjadi sebuah keharusan.

Kalau ingin, atau terlanjur sudah menceburkan diri di Gig Economy, perusahaan harus memahami betul apa dan bagaimana karakteristiknya serta hal lain yang melekat. Kuncinya, perusahaan harus siap terhadap fakta perubahan. Bagaimana dengan perusahaan Anda? Apakah sudah siap?


Leave a comment

You must be logged in to post a comment.