Form a Team of Forecasters in the Supply Chain

Initial steps that can be applied in the supply chain are putting together a team of forecasting traffic entities.

PPM Manajemen3
Text and image block



Oleh : Rosa Sekar Mangalandum, M.M.Trainer, Executive Development Program

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Tersebutlah sebuah situasi, seorang manajer toko ponsel mengeluhkan sulitnya memenuhi permintaan end user. Pasalnya, jenis ponsel yang dikirimkan distributor seringkali tak cocok dengan minat end user dan tren saat itu. Kiriman distributor pun seringkali berbeda dengan pesanan sang manajer. Usut punya usut, toko dan distributor punya pandangan berbeda soal ponsel mana yang laku pada masa tertentu.

Kebetulan, distributor ini juga “bersaudara” dengan sebuah peritel gawai lain yang lebih besar. Forecast distributor berkata, kemungkinan end user yang mencari ponsel fast moving di ritel “saudara” lebih besar ketimbang di toko tadi. Tak ayal, lebih banyak ponsel slow moving yang diterima oleh sang manajer toko.

Boleh jadi distributor merasa paling tahu tentang pasarnya. Toko juga merasa paling tahu tentang pasarnya. Meski hal ini ada benarnya, tapi alangkah indahnya bila distributor dan toko berjalan berdampingan. Yang ada dari situasi di atas adalah distributor dan toko sama-sama tak terpikir bahwa keduanya bisa menyusun forecast bersama dalam satu tim.

Ada telaah perihal bahwa sebuah tim mampu menghasilkan forecast yang akurat ketimbang individu yang baru-baru ini diuji oleh dua profesor dari University of Pennsylvania, melalui suatu penelitian selama 2011-2015. Alih-alih bermetode kuesioner atau wawancara, penelitian unik ini justru berbentuk turnamen peramalan yang mengadu 25.000 peramal, mulai dari pemula hingga analis intelijen. Pesertanya adalah perorangan maupun tim, mereka diminta meramalkan berbagai kejadian ekonomi dan geopolitik penting di dunia.

Turnamen berjuluk Good Judgement Project ini menghasilkan tiga(3) temuan. Pertama, tim yang dikelola dengan baik dapat mem-forecast lebih baik daripada individu. Kedua, kemampuan mengambil keputusan dapat ditingkatkan melalui pelatihan yang dirancang dengan seksama. Ketiga, generalis berbakat kerapkali mem-forecast lebih baik daripada spesialis.

Artinya, untuk membentuk tim peramalan yang bisa diandalkan, dibutuhkan keragaman wawasan dan ilmu. Dalam konteks perusahaan, tim ini akan membutuhkan sekurang-kurangnya 1 orang spesialis, misalnya spesialis bidang keuangan. Anggota generalis juga dibutuhkan, khususnya orang yang tak mudah kecil hati berhadapan dengan spesialis tingkat expert. Terbukti, ramalan para generalis seringkali lebih baik daripada para spesialis.

Terinspirasi hasil penelitian Good Judgement Project, langkah awal yang bisa diterapkan di dalam rantai pasok adalah menyusun tim forecasting lintas entitas. Ritel dapat duduk bersama distributor bahkan manufaktur dan pemasok jika memungkinkan, ini untuk menghasilkan forecasting yang akurat. Informasi unik dari tiap entitas, misalnya penerapan tentang situasi-situasi eksternal yang mudah berubah, akan meningkatkan objektivitas peramalan.

Ritel ponsel contohnya, bisa menginformasikan tren dan minat end user secara empiris pada distributor, manufaktur, dan entitas lainnya dalam satu rantai. Entitas yang terlibat bisa mengevaluasi asumsi satu sama lain. Maka bias dalam peramalan akan berkurang.

Forecast yang kuat tentu berdasar pada data. Nyatanya, sebagian besar entitas dalam rantai pasok lebih suka merahasiakan data karena tak saling percaya bahwa tiap entitas dapat menghormati kerahasiaan data masing-masing. Rendahnya kepercayaan ini terus menjadi kendala, sementara kebutuhan untuk bersinergi dalam banyak hal termasuk forecasting sesungguhnya kian mendesak.



Leave a comment

You must be logged in to post a comment.