Efek Trump bagi Investor

Risiko politik dalam dan luar negeri (khususnya Amerika) secara langsung memengaruhi kinerja pasar modal dalam negeri ditengah melemahnya rupiah.

Yanuar Andrianto
Text and image block

Oleh : Yanuar Andrianto, M.M. - Core Faculty PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 39 Tahun V, 28 Nov - 04 Des 2016

Sudah sekitar sepekan lebih kinerja pasar modal dunia terusik. Kali ini pemicunya bukan dari aksi kenaikan suku bunga Amerika Serikat oleh The Fed, ancaman terorisme, atau yang sedang hangat, konflik Laut Cina Selatan, tetapi perhelatan politik Pemilihan Presiden Amerika. Partai Demokrat harus merelakan kekuasaan Gedung Putih kepada Partai Republik, Donald Trump, calon presiden Republik, unggul  276 electoral vote, dibanding rivalnya Hillary Clinton dari Demokrat 218 yang memperoleh electoral vote. Hasil ini mengejutkan pelaku pasar modal dunia yang selalu memantau manuver Trump sejak masa kampanye.

Pernyataan Trump acapkali mengundang reaksi terkait isu sensitif, seperti imigran, pembatasan aktivitas muslim di Amerika,  dan rencana kebijakan politik Amerika. Tak mengherankan jika hasil studi yang dilakukan T he Economist Intelligence Unit (EIU) bahwa keberhasilan Trump berdampak terhadap stabilitas keamanan politik dunia yang pada gilirannya berdampak terhadap investasi global. Kemenangan Trump ini masuk dalam risiko tertinggi keenam yang dihadapi dunia di bawah bayang-bayang keretakan Uni Eropa.

Pergerakan harga saham tidak dapat dihindarkan dari peristiwa politik (Click, 2005). Bahkan, selama beberapa dekade terakhir, perkembangan politik dunia memengaruhi pertumbuhan dan prospek ekonomi (Bodie et al, 2015 ). Tentu saja, hal ini harus menjadi catatan penting bagi investor dan pelaku bisnis ketika mengukur risiko bisnis dan finansial di tengah melambatnya roda ekonomi global.

Kecemasan Politik dan Kejutan IHSG

Risiko politik dalam dan luar negeri (khususnya Amerika) secara langsung memengaruhi kinerja pasar modal kita di tengah melemahnya rupiah. Indikator yang dapat digunakan adalah kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Guncangan IHSG sudah terasa sejak 03 November 2016 akibat demonstrasi 4 November 2016.

Sehari sebelum demonstrasi, kecemasan investor mengakibatkan sekitar 277 saham melemah sehingga IHSG turun 1,4% pada posisi 5.329,5. Untungnya kisruh itu tidak berlangsung lama karena fundamental ekonomi dan stabilitas keamanan Indonesia. Inilah yang mendorong IHSG naik kembali  0,62% pada posisi 5.362,66 sehari setelah demonstrasi.

Kuatnya efek Trump mampu meruntuhkan harga-harga saham di bursa Asia saat pemenang Pemilu Presiden Amerika diketahui (Bloomberg, 2016). Penurunan sangat kuat dirasakan pada bursa India dan Jepang yang mencapai lebih dari 4%. Bursa Efek Indonesia juga mengalami penurunan pada kisaran 1,85%. Ancaman politik Amerika ini lebih dicemaskan pelaku pasar di Indonesia jika dibandingkan dengan ancaman teror Bom Sarinah di awal tahun 2016, saat itu IHSG  hanya turun 0,53%.

Sepanjang 2016, kebijakan Amerika sudah membuat pelaku pasar di Indonesia bersikap wait and see. Contohnya adalah ketidakpastian The Fed menetapkan tingkat suku bunga acuan yang secara langsung membuat IHSG tertekan dan biasanya akan diikuti melemahnya rupiah. Ditambah dengan kehadiran Trump, kebijakan ekonomi yang akan diambil membuat pelaku pasar menjadi lebih berhati-hati dan bisa memicu penurunan IHSG beberapa saat.

Timing the Market pada Obligasi

Berapa lama efek Trump akan mengganggu iklim investasi Indonesia? Ketidakpastian kebijakan ekonomi dan politik tentu masih akan membayangi, terutama jika benar The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga. Investor dengan mudah akan menarik dananya dari pasar modal Indonesia dan, seperti biasanya, terjadilah capital outflow.

Pilihan investasi di pasar obligasi Indonesia bisa dipilih sebagai upaya mengantisipasi ketidakpastian risiko politik Amerika. Meskipun efek Trump sempat menekan pasar obligasi dengan penurunan 0,26% saat pengumuman 09 November 2016 , hasil ini masih rendah dibandingkan dengan penurunan IHSG.

Jika kita melihat kinerja pasar obligasi pada Indonesia Composite Bond Index (ICBI) setahun terakhir, terjadi pertumbuhan return 13,04%  (per 18 November 2016). Tren kenaikan yang stabil pada corporate bond , mampu mengukuhkan total return berkisar 12,46%. Sementara itu, pada goverment bond , meskipun mengalam tren penurunan return sejak September, total return yang diberikan mencapai 13,14%.

Apapun pilihan dan selera risiko investasi, pelaku bisnis dan investor harus optimis, mengingat secara fundamental ekonomi, Indonesia membaik. Keberhasilan Amnesti Pajak menjadi cerminan bahwa ada kepercayaan terhadap pemerintahan.  Selain itu, kinerja IHSG sejak lima tahun lalu membaik dan masih di atas negara tetangga, seperti Singapura dan Thailand. Jika masih cemas terhadap kinerja IHSG kedepan, sudah saatnya melirik  pasar obligasi.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.