E-procurement Perhemat Anggaran

Sistem e-procurement yang transparan mampu menekan tingginya biaya pengadaan barang dan jasa, sehingga dapat memacu pendapatan perusahaan atau organisasi.

Puput Suwastika
Text and image block
Oleh: Puput Suwastika, M.M. – Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume XXXV 2017 p. 58-59

Di awal 2008, sistem pengadaan barang dan jasa di Indonesia mulai berbenah seiring munculnya perubahan  yang dikenal dengan e-procurement atau e-purchasing. Penerapannya menyebar ke seluruh organisasi pemerintahan, kementerian, BUMN maupun badan pemerintah lainnya.

Kinerja atas penerapan e-procurement kian tahun kian cemerlang. Pada 2015 saja, penerapan e-procurement dalam pengadaan barang dan jasa yang dilakukan pemerintah dapat menghemat anggaran hingga 30 persen. Presiden Joko Widodo mengatakan negara berhemat hingga Rp795 triliun dengan penggunaan sistem dan pengawasan yang baik dalam pengadaan barang/jasa .

Sistem e-procurement yang diciptakan pemerintah Indonesia sendiri merupakan metode pengadaan secara elektronik  dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik dilakukan dengan cara e-tendering atau e-purchasing yang diatur sesuai Peraturan Presiden No. 54 tahun 2010 Tentang Pengadaan barang/jasa Pemerintah yang  kemudian disempurnakan dalam Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2015.

Prinsip dan tujuan awal penerapan e-procurement adalah agar pelaksanaan pengadaan barang/jasa menjadi lebih efisien dalam hal penggunaan sumber daya, efektif sesuai target, transparan dalam prosesnya, menciptakan persaingan yang sehat antarpenyedia jasa, serta menghasilkan keputusan pengadaan yang adil dan akuntabel.

Hingga 2016, Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang dibentuk untuk melayani pengadaan barang/jasa pada instansi pemerintah Indonesia berkembang sebanyak 635 unit layanan ( system & services ) dengan area meliputi 34 provinsi di Indonesia dan 731 instansi pemerintah.

Dengan penerapan sistem e-procurement pemerintah berhasil menghemat penggunaan anggaran biaya pengadaan barang/jasa yang tercermin pada persentasi selisih pagu dan hasil lelang sebesar 10,14 persen di 2015 dan 9,26 persen di 2016. Manfaat bagi perusahaan

Semangat penerapan sistem ini selayaknya dapat ditularkan pada seluruh instansi di Indonesia, baik pemerintah maupun instansi swasta. Dalam sebuah studi (E-procurement Observatory, Politecnico Milano, 2006-2011), menunjukan sejumlah manfaat pelaksanaan e-procurement yang dapat dirasakan oleh perusahaan. Pertama , efisiensi yang tercermin dari berkurangnya penggunaan sumber daya dan proses pengadaannya menjadi lebih singkat.

Kedua , pengadaan secara elektronik ini dapat meningkatkan kualitas hasil pengadaan dengan menciptakan iklim keterbukaan dalam prosesnya, dan mengurangi risiko kecurangan dalam pengadaan. Selain itu, potensi mendapatkan harga yang lebih kompetitif dapat tercipta dengan persaingan yang terbuka dan sehat.

Ketiga , dematerialization, sistem ini dapat mengurangi penggunaan kertas, dan meniadakan biaya atas penyimpanan dokumen fisik hasil transaksi pengadaan. Keempat , e-procurement dapat meningkatkan aspek transparansi dalam prosesnya, prosedur pelaksanaan, persyaratan, bahkan pemenang dapat diketahui dengan gamblang tanpa harus ditutupi, sehingga dapat mengurangi risiko penyalahgunaan wewenang penanggung jawabnya.

Terakhir , berkontribusi mempromosikan peningkatan daya saing antar pemasok. Dengan sistem pengadaan elektronik ini, tingkat partisipasi pemasok jauh lebih tinggi sehingga memberikan peluang untuk mendapatkan hasil dari sumber yang tepat kualitas, harga, waktu maupun jumlahnya.

Besarnya manfaat sistem ini menjadi daya tarik yang kuat untuk dapat diduplikasi di berbagai organisasi. Perusahaan swasta besar dalam bidang perminyakan, pertambangan, penerbangan dan automotif pun sudah menerapkan sistem e-procurement.

Pengadaan merupakan ranah yang kental akan biaya dan kesalahan dalam pengalokasiannya. Dari hasil penelitian, biaya pembelian biasanya mencapai 50 persen dari biaya operasional, proses pengadaan memberikan banyak kesempatan untuk penghematan biaya yang dapat membuat perbedaan besar pada bottom line perusahaan. Penerapan e-procurement diharapkan mampu menekan tingginya biaya tersebut, sehingga dapat memacu pendapatan perusahaan atau organisasi.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.