Cultural Integration In Process Of Mergers & Acquisitions

Coercion of culture as well as on the strategy of monocultures may cause resistance from employees and resulted in a decline in the value of M&A, especially when each partner has a different culture.

PPM Manajemen3
Text and image block


 

Oleh : Lufina Mahadewi, M.M., M.Sc. - Core Faculty PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di SWA Online


Dalam proses integrasi Merger dan Akuisisi (M&A), tanpa adanya perencanaan yang baik, maka dapat mempengaruhi sinergi yang diharapkan dari proses M&A. Studi yang dilakukan oleh A.T Kearney 1998 menunjukkan bahwa 49% bobot faktor kesuksesan dari keseluruhan proses M&A berada pada proses integrasi M&A. Di samping fokus untuk meningkatkan sinergi dari sisi hard competences, fokus lainnya dalam proses integrasi M&A adalah dalam hal pengelolaan soft factors yang kerapkali menjadi tantangan utama.

Pengelolaan soft factors, antara lain, dalam hal integrasi budaya perusahaan, dan koordinasi proses serta sistem di dalamnya. Perusahaan harus dapat menentukan tipe integrasi budaya yang tepat untuk diterapkan dalam proses integrasi M&A berdasarkan analisis atas kekuatan dan kelemahan dari masing-masing perusahaan.

Berdasarkan tipe integrasi budaya yang dipilih tersebut, maka dapat ditentukan strategi integrasi dan tahapan implementasi untuk mencapainya. Menurut Picot (2002), terdapat tiga strategi yang berbeda untuk integrasi budaya yaitu strategi monokultur yang merupakan strategi dimana perusahaan yang lebih besar memaksakan budaya perusahaannya kepada perusahaan yang lebih kecil dalam bentuk “cultural colonization”.

Lalu strategi multikultur, di mana akuisisi mempertahankan masing-masing budayanya dan koeksistensi budaya dipandang sebagai pengayaan; dan ketiga strategi kultur campuran (mixed culture) dimana budaya antar kedua perusahaan disatukan sehingga terbentuk suatu budaya baru yang di dukung oleh masing-masing perusahaan.

Pemaksaan budaya seperti halnya pada strategi monokultur dapat menimbulkan resistensi dari para karyawan dan berdampak pada penurunan nilai M&A, khususnya apabila masing-masing partner memiliki budaya yang berbeda. Namun, strategi monukultur tersebut dapat berhasil diterapkan apabila dalam proses perubahan peran kepemimpinan secara efektif diterapkan. Adapun pemimpin harus secara efektif mengkomunikasikan visi perubahan, menjaga keberlaksanaan visi, dan memberikan dukungan secara optimal kepada setiap karyawan selama proses transisi.

Karena salah satu kunci kesuksesan dalam proses integrasi adalah para pemimpinnya secara konsisten memimpin perubahan dan menghargai setiap proses perubahan yang terjadi. Selain itu, komunikasi terbuka dengan para stakeholders juga menjadi faktor kesuksesan dalam proses transisi tersebut.

Strategi multikultur dapat diterapkan jika perusahaan di dalam proses M&A kurang memiliki kesamaan dalam lingkup bisnis atau memiliki pola yang berbeda dalam melakukan kegiatan industri. Dalam hal ini, masing-masing perusahaan memilih untuk mempertahankan budaya perusahaannya dan ragam budaya tersebut diharapkan dapat memberikan potensi nilai tambah bagi sebuah sinergi.

Strategi multikultur biasanya dapat berjalan jika motif utama dari M&A adalah pertumbuhan, dan proses M&A dilakukan dengan sebuah perusahaan kecil atau baru. Beberapa langkah perubahan dilakukan untuk menciptakan suatu kesuksesan integrasi perubahan. Perubahan yang dilakukan terkait bagaimana perusahaan yang di merger tersebut dapat mencapai dampak yang positif dengan adanya visi baru, kode etik dan arah strategi baru.

Langkah-langkah proses perubahan dilakukan berdasarkan internalisasi kepemipinan. Perusahaan mencoba untuk menciptakan proses pembelajaran antara mereka dengan mengadopsi kunci sukses dari masing-masing perusahaan dan menanamkan hal tersebut dalam rangka mencapai   tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dan menjaga stabilitas posisi bisnis. Kedua perusahaan memperlakukan satu sama lain sebagai mitra bisnis yang sama dan membangun sebuah koherensi berdasarkan orang dan fokus pengetahuan.

Integrasi budaya yang paling umum dalam proses M&A adalah strategi kultur campuran, yang umumnya terjadinya pada merger horizontal. Strategi integrasi  ini akan menghasilkan suatu budaya baru dengan visi, misi baru, dan nilai-nilai bersama yang selaras dengan struktur, sistem, arah strategis yang diharapkan dapat diwujudkan dari aktifitas M&A. Strategi ini sebagian besar berfokus pada mencari pendekatan praktek kerja yang sesuai bagi perusahaan gabungan tersebut.

Strategi kultur campuran memerlukan upaya intensif dan implementasi lebih lama karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Alasan lainnya, meskipun strategi kultur campuran memiliki kesulitan yang lebih tinggi dalam proses implementasi, strategi tersebut merupakan strategi integrasi yang ideal yang menyeimbangkan elemen-elemen terbaik dari masing-masing perusahaan.

Strategi kultur campuran membutuhkan proses perubahan yang dikelola untuk mencapai seluruh tujuan dari M&A. Budaya baru, visi, dan proses penyelarasan lainnya diciptakan dengan memperhatikan rekomendasi dari due diligence termasuk HR due diligence.

Dari penjelasan atas tiga struktur integrasi budaya tersebut disimpulkan bahwa perusahaan mampu mencapai sinergi yang dihasilkan apabila peran kepemimpinan yang efektif dijalankan selama proses integrasi M&A.


Leave a comment

You must be logged in to post a comment.