Applying Global Business Principles In Indonesia

While developed countries are seeking alternatives of environment friendly energy resources, Indonesia is still busy with the discussion to build a nuclear reactor although the alternatives of natural energy resources in Indonesia are very many.

PPM Manajemen3
Text and image block



 

Oleh : Ricky Virona Martono Trainer, Executive Development Program

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Vol. XXXIV 2017 p. 46-47

Ada dua isu industri yang kerap muncul dan bisa menjadi masukan bagi dunia industri Indonesia. Pertama, ancaman relokasi beberapa pabrik manufaktur dari Indonesia ke negara ASEAN lain seperti Vietnam dan Thailand karena terkait persoalan kepastian hukum.

Isu kedua, rencana Korea Selatan menutup beberapa reaktor nuklir dengan alasan sertifikasi keamanan reaktor nuklirnya palsu dan juga karena dianggap berisiko tinggi. Di belahan dunia lain, Jerman sudah menjalankan rencana untuk menutup semua reaktor nuklirnya secara bertahap sampai pertengahan 2020 dan berinisiatif untuk mencari sumber pasokan energi lain yang ramah lingkungan.

Dalam konsep dasar pembangunan industri, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendukung berjalannya sebuah proses bisnis dari tiap perusahaan yang ikut peduli terhadap lingkungannya. Hal ini dituangkan dalam “Ten Principles of the United Nations Global Compact”, yang terdiri dari empat garis besar: Human Rights, Labour, Environment, dan Anti-corruption.  Konsep ini merupakan bentuk koordinasi yang menyeluruh dari  komunitas dan masyarakat internasional dengan dunia bisnis.

Tercatat 135 negara di dunia ikut berpartisipasi dan menandatangani kesepakatan tersebut, termasuk Indonesia. Isinya bukan merupakan peraturan baku, tapi lebih ke bentuk inisiatif dan komitmen dari pelaku bisnis untuk menjadi transparan, sejalan dengan hukum yang berlaku, dan menyediakan wadah inovasi bagi seluruh pemangku kepentingan.

Ada dua prinsip yang menjadi sorotan. Pertama, pada prinsip Labour tercantum isu bahwa sebuah badan usaha harus menyediakan media/asosiasi yang mampu menampung aspirasi dan mencapai persetujuan seluruh pihak yakni pemilik usaha, karyawan, masyarakat sekitar, dan segenap pemangku kepentingan. Contohnya penghasilan dan kepuasan kerja karyawan dalam bentuk lain selain penghasilan berupa  penghargaan. Tampaknya Indonesia belum sepenuhnya mampu memenuhi poin ini karena media yang digunakan oleh pelaku industri untuk menuntut jaminan hukum dan keamanan tidak memberikan hasil yang positif.

Kedua, prinsip Environment, yaitu mendorong pengembangan dan penerapan bisnis yang ramah lingkungan. Jerman dan Korea Selatan sudah mulai menjalankan usaha-usaha memenuhi prinsip Environment ini dengan menutup beberapa reaktor nuklirnya. Sementara negara-negara maju mencari alternatif sumber energi yang ramah lingkungan, Indonesia masih berkutat dalam diskusi membangun reaktor nuklir meskipun alternatif sumber pembangkit energi alami di Indonesia sangat banyak.

Selain butuh disiplin yang tinggi dalam menjalankan reaktor nuklir, Indonesia juga rentan dengan bencana alam gempa bumi dan tsunami di banyak titik. Sehingga, risiko pembangunan reaktor nuklir di Indonesia sebenarnya cukup tinggi.

Sampai saat ini Indonesia masih belum mampu memenuhi prinsip-prinsip bisnis global. Kita bahkan membuat suatu langkah mundur untuk membangun dunia yang ramah lingkungan bagi generasi mendatang karena rencana pemanfaatan tenaga nuklir.

Meskipun belum menjalankan prinsip manufaktur yang baik, Indonesia tetap menjadi salah satu sasaran investasi asing karena diuntungkan dengan kondisi alam dan jumlah penduduk yang besar. Hal ini membuat Indonesia dipandang baik sebagai basis produksi bahan mentah dari alam sekaligus pasar untuk menjual barang jadi. Jika bahan mentah disediakan oleh Indonesia, sementara proses produksi dilaksanakan di negara lain, kemudian barang jadi dijual kembali di Indonesia, ini sama saja artinya dengan kita menyediakan sarana bagi orang lain untuk berproduksi dan akhirnya kita juga yang membeli hasil produksi orang lain. Indonesia hanya menjadi buruh dan konsumen di negerinya sendiri dan dimanfaatkan oleh negara lain.

Mari kita mulai membangun industri yang tidak hanya memikirkan profit saja. Untuk ini, perlu strategi menyeluruh dari segenap pihak yang peduli dengan kondisi industri di Indonesia dan harus dimulai sejak saat ini sebelum kita tertinggal dengan negara tetangga dan kalah dalam persaingan global.


 



Leave a comment

You must be logged in to post a comment.